Cerpen Zelfeni Wimra

MADRASAH LUMUT

Zelfeni Wimra*

 

SD Laskar Pelangi (Isral/Papkis)
SD Laskar Pelangi (Ilustrasi: Isral/Papkis)

 

Di luar kira-kira, Habib, aku memuai di terik siang. Serupa menggala tengah hari, aku kulai ditindih cerita tentang embun yang harus pulang ke relung awan. Ziarahku tiba-tiba dingin. Aku tak kuasa melarang airmata tumpah ketika memandang madrasah kita dibungkus lumut.

Jika hanya sunyi yang meleleh, aku dapat mengajak pikiranku menyusuri kembali kisah-kisah lama, mengulas kenangan, ketika aku dan ratusan teman-teman mengakrabi kitab-kitab, meja, dan bangku-bangku di madrasah ini. Tapi tidak hanya sunyi yang kutemukan. Aku juga menuai sakit. Di tangga gerbang yang di sisi atasnya tumbuh sebatang pohon jambu, lumut hijau menjalar angkuh. Dari berbagai arah, gumpalan lumut yang lain merangkak perlahan seperti mau menggulungku.

Ketika kukayuh langkah menuju peristirahatan terakhirmu, kurasakan teduh matamu menikamku. Aku tak sanggup menepis bayangmu yang hadir bersama tumpukan kenangan. Ada suara-suara yang ngiang di selaput gendang: gemuruh amin kala kau mendoakan kami; riuh tanya-jawab di lokal; keprihatinanmu terhadap masyarakat di sekitar madrasah yang sampai waktu itu belum juga bisa menikmati air bersih. Tentang abang-abang becak di pasar kecil yang rela berkeringat sepanjang musim demi menyuapi keluarga, juga tentang kami yang harus berhadapan dengan hiruk-pikuk kemajuan yang mendangkalkan iman. Pun, tak akan kulupakan, Habib, nasihatmu tentang kediaman terakhirmu: “Bila aku dipanggil-Nya, makamku adalah sepetak tanah di belakang madrasah. Agar nanti, ketika kalian sudah kembali ke alamat masing-masing, dan aku berdiam di lahat, kalian dapat datang, melepas (mungkin) selaksa rindu di depan nisan dan mengirim doa-doa…”

***

Sekali lagi kukeluhkan: banyak hal yang terjadi di luar kira-kira, Habib. Tak lama setelah aku tamat dan kembali ke kampung kelahiranku, kudengar kau dipenjara atas tuduhan terlibat dalam aksi teror yang dapat mengganggu stabilitas keamanan negara. Aku ngilu mendengarnya. Kalau saja waktu itu aku tidak sedang terikat kontrak dinas di tempat aku bekerja, aku pasti datang menjengukmu.

Setidaknya aku dapat menemanimu menanggung tuduhan itu. Tapi, jarak, waktu, juga ikatan-ikatan keduniaan telah mempersempit pertemuan kita. Sampai akhirnya, kabar paling ngilu kudengar, kau dipangggil-Nya untuk sebuah janji.

Kau dikabarkan menderita gangguan jantung karena tuduhan itu. Sungguh ngilu mendengarnya.

Bertahun pula kemudian, aku belum juga dapat menjengukmu. Sementara ngilu yang bergelantungan di pucuk hatiku terus menumpuk. Maafkan aku, Habib. Akulah murid paling malang, murid yang telah diikat dunia, tak mampu memilih satu dari sekian pilihan. Kesempatan menjengukmu dalam ritual ziarah terasa dingin, sebab baru kuperoleh bertahun-tahun sejak kau meninggalkan hiruk-pikuk ini. Mudah-mudahan tidak ada yang sia-sia, Habib. Seperti harapanmu padaku waktu pertama kali menginjakkan kaki di madrasah ini.

Aku yang waktu itu datang sendiri tidak diterima panitia penerimaan santri baru di madrasahmu lantaran tidak datang bersama orang tua. Aku diminta langsung menghadapmu. Di hadapanmu, aku menggigil.

“Ananda, kenapa ke sini tanpa orang tua?”

“Ayahku sudah tiada, ibuku lumpuh. Aku ke sini sendiri, Ustadz…..”

“Sssstt…Jangan panggil aku ustadz. Panggil aku Habib. Kamu tahu arti habib?”

Aku menggeleng. Lugu.

“Habib berarti kekasih. Panggillah setiap orang “kekasih”, Nanda, sekalipun hati dan pikiranmu berkata lain. Lalu, tersenyumlah pada seluruh mata yang memandangmu. Karena bibir diberikan-Nya sebagai ladang bagi kita, tempat bertanam senyum dan zikir. Hidup mesti berlaba. Senyum termasuk laba yang harus dibagi-bagi. Sedang zikir, laba untuk dibawa mati. Tidak boleh ada kesia-siaan. Kau kunyah-kunyah dulu apa yang kukatakan. Kalau manis jangan ditelan. Jika pahit jangan dimuntahkan,”

Aku kembali mengangguk-angguk. Mengunyah-ngunyah ucapanmu. Dan aku yakin bahwa pilihanku bukan sesuatu yang gagah-gagahan. Lalu (dalam keluguan seorang lelaki 13 tahun) kuceritakan padamu rintangan yang kulalui sebelum berangkat ke madrasah. Dalam tangis yang ditahan-tahan, kukisah padamu perihal pamanku yang keberatan dengan pilihanku.

“Mengapa madrasah itu yang kau pilih?” cetus Paman. “Setahun saja di sana kepalamu bisa gundul dan sekujur tubuhmu kudisan. Paman tidak setuju dengan sistim pemondokannya. Pengaruh psikologis terhadap anak didik yang dibaurkan sesama jenis kelamin dalam satu asrama sangat tidak baik. Paman sering mendengar, di asrama madrasah itu sering terjadi prilaku seks menyimpang: lesbian, homoseks! Menurut paman, madrasah yang kau pilih itu adalah bentuk lain dari penjara. Belum lagi kebersihannya. Aduh! Banyak santri yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena terjangkit penyakit kulit, muntaber. Gangguan pencernaan!

Kau paham maksud Paman? Konkritnya begini: kalau pilihanmu sudah final, maaf, Paman tidak bisa membantu soal biayanya. Tapi kalau selain madrasah, Paman sedia mendanai sekolahmu sampai ke tingkat yang lebih tinggi….”

Pamanku seorang pemimpin di sebuah instansi pemerintah. Karena itu—mungkin—dalam memberi petuah atau instruksi selalu dengan bahasa yang tegas. Aku, anak tanpa bapak ini, tentu tidak akan membantah bila Paman sedang berpetuah. Ya, bagaimana lagi. Sudah tiga tahun, sejak Bapak tiada, biaya sehari-hariku dan dua orang kakakku ada dalam jaminan Paman. Sementara Bunda, tinggal jasad lemah akibat stroke yang ia derita. Setahun sejak Bapak berpulang, Bunda sering menggigil hingga tak sadarkan diri. Sampai suatu ketika, Bunda tidak dapat lagi berkata-kata. Separo tubuhnya lumpuh. Lidahnya kelu. Bila ingin meminta sesuatu; mengatakan sesuatu; hanya dengan isyarat.

Dalam kondisi seperti itu, paman, adik mendiang bapak satu-satunya datang dengan niat yang mulia: membiayai pendidikan kami bertiga. Alhamdulillah, pikiranku yang nyaris dikuasai putus asa perlahan-lahan cerah. Aku pun kembali dapat merancang cita-cita.

Ketika Paman datang menyampaikan keberatannya atas pilihanku ingin sekolah di sebuah madrasah, haruskah aku memaksakan diri? Tentu tidak, Habib. Aku hanya menunduk, menekuri denyut di dada kiri. Ada peperangan di sana.

Saat menengadahkan kepala, kulihat Bunda saat itu menggerak-gerakkan tangannya yang lumpuh. Bunda seperti ingin memelukku. Dan matanya, masya Allah, menyulut semangatku. Aku tahu Bunda mengubur tangisnya dalam-dalam. Ia kuyakini tengah mendukungku, memberi pembelaan terhadap pilihanku dengan caranya sendiri. Sebentar kemudian Bunda mengisyaratakan agar aku mengikutinya ke dalam kamarnya.

Di dalam kamarnya yang lusuh, bunda menyodorkan sebuah tas mungil yang di kulit luarnya tertulis: Toko Mas Murni. Saat kubuka, sebuah kalung emas beserta surat-surat jual belinya ada dalam kantong tas mungil itu. Aku mengerti maksud Ibu. Maka, esoknya, setelah menjual kalung emas itu aku berangkat ke madrasah yang sudah lama menjadi bunga-bunga dalam mimpiku. Aku tak peduli meski menurut paman, madrasah itu hanya akan membuat kepalaku gundul dan sekujur tubuhku kudisan.

***

Bukankah begitu, Habib? Aku kau keterima sebagai murid tanpa harus bayar ini, bayar itu. Cuma ada satu syarat: aku harus bermusuhan dengan segala yang sia-sia. “Para pencari ilmu,” ucapmu di hadapan seluruh murid baru kala itu, “adalah orang-orang yang dirindukan Rasulullah. Beliau sangat bangga dengan umatnya yang tak mengenal kata selesai dalam menuntut ilmu, dari buaian hingga ke lahat. Dari Arab hingga ke Cina—sebuah jarak yang jauh. Artinya, ke daerah dengan kultur dan agama yang berbeda pun kita dianjurkan mencari ilmu. Maka mulailah membangun cita-cita kalian dari sini. Jangan bercerai-berai meski kalian berasal dari daerah yang berbeda. Jaga kesatuan hati kalian. Seperti yang sering aku sampaikan pada siapa saja: panggillah setiap orang kekasih. Hidup tanpa kekasih apalah artinya. Sebaliknya, betapa bahagianya, jika semua orang adalah kekasih. Kiranya kalian menangkap rahasia hidup yang satu ini!

Jangan kalah oleh kengkeng (anjing) Pak Munir. Suatu kali kengkeng Pak Munir, pemilik kedai kelontong di depan madrasah kita ini, mengejarku karena melihat aku membawa tas jinjingan berisi ikan.

Aku cemas, kengkeng itu terlihat buas ingin menggigitku. Dalam kecemasan itu muncul akal untuk melempar satu ikan ke hadapannya. Kengkeng itu tiba-tiba menangkap ikan itu dan tiba-tiba saja tampak jinak terhadapku. Sejak itu, setiap kali berpapasan denganku, kengkeng itu selalu mengibaskan ekornya, tanda kesetiaan, tanda kepatuhan, persahabatan, dan terima kasihnya.

Tapi, kengkeng itu dibeli oleh orang luar kota. Bertahun antaranya, kengkeng itu tak pernah lagi kutemukan. Sampai suatu kali, aku berkunjung ke sebuah perkampungan terpencil guna memenuhi undangan pengajian, aku terpekik di depan sebuah rumah. Seekor kengkeng tua dan kurapan, menghadangku. Aku mengira akan digigitnya. Tapi kengkeng itu kelihatan jinak. Ia melompat-lompat girang. Kuperhatikan dengan teliti. Ternyata kengkeng tua dan kurapan itu tak lain adalah kengkeng Pak Munir yang bertahun-tahun tak pernah bertemu denganku. Itu kengkeng, bagaimana dengan kita?”

Begitu selalu. Di waktu senggang, biasanya selepas shalat subuh berjamaah, kau sengaja mengumpulkan kami dan bercerita tentang apa saja yang sampai kini menjadi simpanan abadi dalam hatiku.

Lantas apakah aku harus percaya bahwa dirimu terlibat aksi teror yang mengganggu stabilitas keamanan negara yang belakangan menggejala? Sulit bagiku untuk percaya, Habib. Sedikit banyaknya, aku juga mengerti seputar wacana stabilitas keamanan itu.

***

Sungguh, Habib. Ketika jarak, waktu, serta ikatan-ikatan keduniaan mampu kuretas dan aku lesa mengunjungi makammu dalam ritual ziarah, aku tiada mengira kalau yang berwarna hijau di pilar gerbangnya itu adalah lumut-lumut licin yang menggelincirkan siapa saja yang berjalan di atasnya. Dalam pikiranku, madrasah itu tengah berganti cat. Tapi pikirankukah yang keliru atau kenyataan yang kian tak menentu? Ziarahku tiba-tiba dingin. Langit yang mengatapi simpuhku mendadak kelabu. Memang tak ada hujan yang turun. Tapi bayang-bayang gelap yang menghampiriku telah mengguncangkan segenap akal sehat yang kupunya. Aku mengigil. Saat membuka mata, aku saksikan lumut bergumpal-gumpal menghadangku. Aku serasa melihat gemulung awan ditiup badai yang datang dari berbagai arah.

Lumut-lumut itu hendak membungkus madrasah, Habib. Pertama-tama, lumut-lumut menjalari gerbang madrasah. Perlahan dinding madrasah pun dibalutnya hingga menghijau. Kemudian, lumut-lumut terus menjalar sampai ke hadapanku, merangkak dan meliputi sekujur tubuhku yang gigil. Kukedip-kedipkan mata. Orang-orang yang entah sejak kapan berkerumun di sekelilingku tampak hijau dan kaku terbalut lumut. Mereka mungkin para guru dan santri madrasah yang terkejut melihat kedatanganku.

Aku belum sempat mengenali apa sebenarnya yang terjadi, ketika beberapa pemuda bertubuh kekar menangkap patahan lenganku lalu melipatnya ke belakang punggungku dengan apitan borgol.

“Anda kami tangkap! Anda terbukti bersekongkol dengan kelompok Habib Fununi Karim,” ucap salah seorang yang membelengguku.

Aku masih kewalahan mengenali apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang yang menangkapku ternyata memakai pakaian dan atribut yang sama denganku tapi mengapa ia berlaku begitu kasar? Dari bisik-bisik yang kudengar, aku coba juga mereka-reka keadaan yang sebenarnya.

“Aneh. Ada “aparat” menangkap “aparat”, celetuk seseorang, mungkin salah seorang dari para santri yang sudah memenuhi halaman madrasah.

Mereka (tentu) sangat terkejut melihat penangkapanku di depan makam Habib Fununi Karim, guru kebanggaan mereka yang telah tiada.

“Sssst. Jangan asal bicara!” sapa suara yang lain, “Yang ditangkap itu salah seorang alumni kita,” suara itu terdengar dewasa. Kukedipkan-kedipkan lagi mataku. Air yang memenuhinya terus meleleh. Sampai di atas mobil yang membawaku menjauh, pandanganku belum juga jernih.

Dari kejauhan, (masih di luar kira-kira, Habib), lumut yang terus bergulung-gulung telah membungkus sekujur madrasah kita. Tak satu pun celah tersisa. []

 

 

Zelfeni Wimra adalah seorang penulis Indonesia dan dosen di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Buku kumpulan Cerpen terbarunya adalah Ramuan Penangkal Kiamat (Gramedia: 2021). Ia dapat dihubungi melalui email wimraba_raba@yahoo.com.

 

Kami menerima kiriman tulisan berupa opini, resensi buku, cerpen dan puisi dengan tema pendidikan, ke-Islaman, dan ke-Indonesiaan. Tulisan yang dimuat, sebisa mungkin, kami sediakan apresiasi terbaik. Tulisan dikirim ke email: papkiskemenagbel@gmail.com.

Komentar