Kolom Isral

MELUCUTI TAIKONG HAMIM

 

Melucuti Taikong Hamim (Ilustrasi: wallpaperbetter.com)
Melucuti Taikong Hamim (Ilustrasi: wallpaperbetter.com)

Taikong Hamim itu tokoh di dalam novel Sang Pemimpi, buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Nama lengkapnya Haji Marhaban Hamim Bin Muktamar Aminudin -nama yang sungguh menguarkan kebaikan. Sayangnya dia tokoh antagonis.

Bayangan Taikong Hamim berkelebat dalam ingatan saya ketika menyaksikan perbincangan buku Lidah Orang Suci secara virtual pada medio Agustus lalu. Ahda Imran, penulisnya, pada suatu kesempatan bilang, “Agama hadir kepada saya dalam bentuk sandal Lily”. Sandal bermerk Lily yang dipakai guru mengajinya itu sering dipukulkan kepadanya bila ia melakukan kesalahan. Bukan kepadanya saja, seluruh kawannya akan mendapatkan perlakuan sama bila berbuat sesuatu yang menurut ukuran si guru dicap sebagai kesalahan. Kenangan belajar mengaji itu melekat lama di alam bawah sadar Ahda sebagai kenangan buruk. Lihatlah kemudian bagaimana pikiran dewasanya merumuskan konklusi: “Agama hadir kepada saya sebagai kekerasan!”     

Saya tentu tidak mengetahui detail kesalahan Ahda dan kawan-kawannya di masa kecil itu sehingga mereka pantas diganjar dengan pukulan sandal. Selain tidak dijelaskan, juga karena tidak ada yang meminta Ahda menjelaskannya secara rinci. Namun kebanyakan orang pasti dapat menduga bahwa kesalahan mereka pastilah kesalahan-kesalahan remeh yang berasal dari pribadi yang sedang tumbuh. Kesalahan anak-anak yang sedang belajar mengeksplorasi dunianya. Ya, mirip-mirip kesalahan Ikal dan Arai di Masjid al- Hikmah seperti diceritakan Andrea.

Misalnya, bernapas pendek ketika mengaji. Untuk kesalahan ini Ikal harus menebusnya dengan hukuman rendam pada suatu subuh yang dingin. Karena terlambat salat subuh, Arai harus berlari mengelilingi masjid sambil memikul gulungan kasur. Hukuman itu ia jalani di bawah tertawaan kawan-kawannya yang melihatnya seperti orang kebakaran rumah. Ada pula Jimbron yang meringkik menirukan kuda di tengah madrasah dan disaksikan oleh ratusan orang santri. Pasalnya sederhana: ia telah memenuhi buku TPA-nya dengan gambar kuda. Puncaknya, berlaku untuk siapa pun, “jika sampai tamat SD belum hapal Juz Amma, siap-siap saja dimasukkan ke dalam beduk dan beduknya dipukul keras-keras sehingga ketika keluar berjalan zig-zag seperti ayam keracunan kepiting batu.” (Sang Pemimpi, 2009; hal. 59).

Bagi Taikong Hamim, mungkin saja deretan hukuman itu diniatkan sebagai sebuah ikhtiar untuk mendidik. Sebagai upaya serius untuk menyiapkan generasi penerus yang taat, saleh, berakhlakul karimah, dan memahami agama dengan baik. Namun bagi Ikal dan kawan-kawan, semua itu adalah tindakan yang sulit dipahami sehingga tidak dapat mereka terima. Taikong Hamim dianggap telah merenggut kebebasan masa kecilnya. Taikong Hamim “keras seperti tembaga” dan bertindak “lebih kejam dari kedua orangtua kami”.

Apakah Taikong Hamim dan guru mengaji Ahda Imran hanya dapat ditemui di tanah melayu? Apakah keduanya khas Indonesia?

Tidak rupanya. Nun di Richmond, Kanada, ia dipanggil sebagai Mr. Khaki. Ia guru di sebuah madrasah yang menyelenggarakan pendidikan setiap hari Sabtu bagi anak-anak muslim imigran. Irshad Manji yang merupakan salah satu muridnya bertutur melalui buku Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat ini. Katanya, “Dia adalah seorang muslim yang keras… memberikan pendidikan agama kepada anak-anak muslim imigran agar mereka tidak larut dalam nilai-nilai rendah di negara multikultural ini.” (Beriman Tanpa Rasa Takut, 2008; hal. 49).

Masalahnya bermula ketika Irshad kecil mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Mr. Khaki tergganggu. Kenapa anak perempuan harus menjalankan salat pada usia yang lebih muda dari anak laki-laki? Kenapa perempuan tidak bisa menjadi imam salat? Oleh Mr. Khaki, pertanyaan semacam itu dijawab secara normatif, bukan dengan dalil akal yang dapat diterima oleh Irshad yang memiliki kecenderungan “memilih menjadi orang terdidik daripada menjadi orang yang terindoktrinasi”. Puncaknya pada saat Irshad meminta bukti-bukti konspirasi kaum Yahudi pada mata pelajaran sejarah. Mr. Khaki muntab, ia menjatuhkan ultimatum: “Kamu percaya atau keluar dari sini! Dan kalau kamu keluar dari sini, keluarlah untuk selama-lamanya.” (Beriman Tanpa Rasa Takut, 2008; hal. 54). Waktu itu Irshad berusia empat belas tahun. Baginya hari itu bukan saja hari yang buruk tetapi juga hari terakhir ia berada di madrasah. Apakah bertanya kepada guru merupakan kesalahan fatal yang membuat seorang murid harus diusir dari sekolahnya?

***

Taikong Hamim itu makhluk kuno yang ada dalam sistem pendidikan agama Islam. Ia ada di semua jalur pendidikan, baik formal, nonformal maupun informal. Ciri-cirinya sama. Keras, tidak mengenal dialog, cenderung menganggap yang dilakukannya adalah kebenaran dan seolah-olah sudah mendapatkan legitimasi Tuhan, temperamental, kaku menerjemahkan aturan, dan gampang menjatuhkan sanksi. Berhadapan dengannya tidak sedikit anak yang mengalami trauma. Potensi-potensi besar pada diri seorang anak tak jarang hilang, menguap begitu saja. Kalau tidak jadi seorang yang penurut karena takut, anak-anak akan menjadi seorang pemberontak dibuatnya. Di tangannya, Islam tampak sebagai agama barbar. Jauh dari kesan agama kasih sayang dan rahmatan lil ‘alamin.

Rasulullah Saw. bukan tidak pernah menegur dalam rangka mendidik Fatimah. Suatu ketika beliau melihat anak perempuannya itu mengenakan kalung emas -atau gelang di lain buku. Rasulullah Saw. tidak suka melihat Fatimah mencitrakan dirinya sebagai orang kaya dan terkesan bermewah-mewahan. Namun ketidaksukaan itu tidak beliau tampakkan melalui aksi yang norak. Rasulullah Saw. hanya memperlihatkan lewat ekspresi wajahnya. Fatimah membaca teguran itu dengan baik, lalu bergegas menjual kalung tersebut untuk membeli seorang budak. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk dimerdekakan.

Begitulah teladan yang mesti dijadikan panduan. Islam harus diperkenalkan kepada peserta didik melalui cara-cara yang santun, lembut, beradab, dan fun. Bila harus marah (walau ada yang berpendapat bahwa marah bukan cara mendidik) marahlah dengan takaran yang tepat, iringi dengan penjelasan yang logis. Dan, marah yang baik adalah marah yang diikuti dengan solusi. Bukan marah yang selalu diiringi sanksi sebagaimana dipraktekkan Taikong Hamim, tokoh antagonis yang perlu dilucuti dari sistem pendidikan agama Islam. Juga dari diri kita sendiri.[]          

Manggar, 20 Agustus 2021

Komentar

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments